Spiritual Writing

Menulis adalah buah dari membaca, ketika apa yang kita baca memiliki nilai-nilai spiritual tinggi maka ia akan menghasilkan buah tulisan yang memiliki nilai spiritual tinggi pula. Sebagai seorang muslim, bacaan utama kita adalah Al-Qur’an, sehingga sudah sewajarnya ketika kita menulispun syarat dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Aktifitas menulis bukanlah hanya sekadar hoby, bukan pula hanya mencari penghasilan apalagi mencari ketenaran, menulis adalah ibadah yang harus menjadi wasilah kita untuk melaksanakan salah satu amanah manusia di dunia. Allah ta’ala berfirman “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku ” QS Adz-Dzariyat : 56.
Ketika ibadah adalah sebuah kewajiban umat manusia maka segala aktifitasnya seharusnya adalah dalam rangka mendekatkan diri kepadaNya, termasuk dalam hal ini aktiftas menulis. Ia adalah aktifitas yang mengajak seluruh umat manusia untuk mengenal Rabbnya, mengenal Agamanya dan Mengenal Nabinya. Menulis juga menjadi sarana untuk mengajak manusia kepada perbuatan yang ma’ruf (baik) dan mencegah dari pebuatan mungkar (buruk) serta beriman kepada Allah ta’ala (QS Ali Imran : 110).
Hal ini memberikan sebuah konsekuensi bahwa setiap aktifitas menulis dilakukan haruslah didasarkan kepada nilai-nilai suci Ilahi, dalam arti setiap tulisan kita didasari oleh rasa keimanan kepada Allah ta’ala. Inilah yang disebut dengan Spiritual Writing. Ia adalah bentuk lain dari ibadah yang telah ditetapkan oleh Allah ta’ala, bahkan Allah ta’ala telah bersumpah dengan salah satu dari alat yang digunakan untuk menulis yaitu pena (qalam). Allah ta’ala berfirman “Nun, demi kalam (pena) dan apa yang mereka tulis” QS Al-Qalam : 1. Allah ta’ala tidak akan bersumpah dengan sesuatu yang tidak memiliki sebuah nilai keagungan. Pena adalah sebuah alat untuk menuliskan segala sesuatu, dalam konteks ayat ini yaitu takdir umat manusia.
Dalam riwayat yang shahih Allah ta’ala berfirman bahwa makhluk pertama yang diciptakanNya adalah Qalam (Pena), ia digunakan untuk menulis semua takdir makhlukNya termasuk manusia. Maka pena adalah makhluk yang memilik derajat yang tinggi untuk menorehkan tinta kebaikan yang akan menyebar kepada seluruh manusia.
Dalam QS Al-‘Alaq : 4 Allah ta’ala berfirman “’Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam”. Allah ta’ala telah menggunakan qalam (pena) sebagai wasilah (perantara) antara Dia dan manusia dalam mengajarkan segala bentuk kebaikan. Jika Allah ta’ala menggunakan pena sebagai wasilah untuk mengajarkan manusia maka berarti manusia secara fitrahnya memiliki kecenderungan untuk menerima hal ini.
Dari sini kita mengetahui bahwa Spiritual Writing adalah sebuah amanah ilmiah yang harus kita laksanakan. Bukan sekadar menulis, tapi lebih dari itu yaitu menulis dengan dasar keimanan mendalam yang termanifestasi dalam setiap tulisan. Wallahu a’lam

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

>Sepasang Merpati

>

Sepasang Merpati
Oleh Abdurrahman Misno

Kepakan sayap seirama
Seiya …….sekata……..
Sepasang Merpati
Terbang Tinggi…. Menggapai mimpi
    Mimpi memadu hati
    Dalam ikatan suci
    Gapai ridha Ilahi
Tetapi ……..
Sepasang merpati tersesat
Dalam keranda maksiat
Berhias berjuta subhat
Di bawah laras laknat
    Wahai sepasang merpati
    Niatmu terlalu suci
    Andai tak dilumuri
    Oleh nafsu duniawi
Silahkan terbang ke mana kau suka
Silahkan mengembara ke mana saja
Namun jaga kesucian diri
Jangan langgar batas Ilahi
    Wahai sepasang merpati
    Jangan lagi terjebak duri
    Jangan lagi membawa hati
    Pada angkara Rabbi      

>Perkembangan TIK dan Ilmu-ilmu Keislaman

>

Perkembangan TIK dan Ilmu-ilmu Keislaman
Oleh : Abdurrahman
Tekhnologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah memberikan banyak kemudahan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak hanya ilmu pengetahuan murni namun juga ilmu pengetahuan keislaman telah menikmati perkembangan ini.  Respon umat Islam sendiri sangat positif dengan masuknya tekhnologi TIK ini ke dalam ranah pengetahuan Islam, khususnya perkembangan tekhnologi informasi yang telah menjadikan kita dengan mudah mencari berbagai referensi dalam ruang lingkup ilmu-ilmu keislaman. 
Adalah Maktabah Syamilah yang saat ini menjadi perpustakaan digital terbesar dalam dunia Islam kontemporer, ia telah menjadi referensi bagi jutaan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Dengan sifatnya yang open source (software terbuka) maka ia dengan mudah berpindah dari satu computer ke computer lainnya, dari satu laptop ke laptop lainnya dan dari satu note book ke note book lainnya. Semuanya gratis tidak ada yang melarang untuk mengkopi sebanyak-banyaknya. Kalaupun ada pihak yang menjualnya itu tidak lebih sekadar biaya produksi dan jasa saja.
Selain Maktabah Syamilah kini juga telah ada Maktabah Islam on line yang dipenuhi dengan buku-buku referensi Islam, belum lagi kitab-kitab para ulama yang telah diketik ulang, di konfersi menjadi format PDF, CHM atau e book dan semua itu disebarkna secara gratis di dunia maya (internet). Intinya adalah kini dengan mudah kita akan membaca kitab Shaih Bukhari, Shahih Muslim dan kitab-kitab induk lainnya.  
Sepertinya dengan perkembangan tekhnologi ini peradaban Islam akan kembali Berjaya. Tentunya dengan sumber daya umat yang siap untuk kembali menyongsong kembali kejayaan tersebut. Dan adanya perpusatakaan digital inilah yang menjadi salah satu dari warisan Islam. Perpusatkaan adalah ciri dari kejayaan ilmu pengetahuan dalam Islam, ia adalah milik seluruh kaum muslimin.dengan adanya perpustakaan digital ini maka setiap muslim selama ia memiliki computer akan dengan mudah mengakses semua kitab-kitab induk. Sehingga tidak ada lagi ilmu-ilmu yang tersembunyi dalam Islam. 
Memang dalam Islam tidak dikenal adanya menyembunyikan ilmu pengetahuan. Setiap umat Islam memiliki hak untuk mengakses ilmu pengetahuan tersebut. Maka adanya perangkat lunak yang left right adalah ciri dari peradaban Islam, demikian pula adanya maktabah yang dapat diakses oleh semua orang.
Inti dari tulisan ini adalah bahwa tekhnologi informasi dan komunikasi yang ada saat ini haruslah mendorong umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan agar dapat bermanfaat bagi seluruh manusia, khususnya mereka yang kurang mendapat akses ke sana. Adanya perkembangan TIK juga seharusnya kembali memacu bangkitnya kembali peradaban Islam, khususnya peradaban tulis-menulis yang masih kurang mendapat tempat di tengah masyarakat.       

>Uhibbu Yaumal Itsnain

>

Uhibbu Yaumal Itsnain
Oleh : Abdurrahman Misno
Orientasi seseorang untuk bekerja terkadang menimbulkan akibat yang membawa kepada kejenuhan di dalam bekerja, tahukah anda bahwa orang-orang yang bekerja dengan ambisi hanya menumpuk kekayaan saja atau demi mempertahankan hidupnya akan dihinggapi kejenuhan ini? anda tentu tidak asing lagi dengan kalimat I dont like Monday, namun alasan apa sebenarnya yang membuat kalimat ini seakan-akan selalu muncul dalam benak para pekerja?. Alasan klasik yang sering mengemuka adalah karena rutinitas yang begitu seringnya berlangsung atau karena terbawa oleh suasana hari Ahad (libur) yang lalu. Semua itu berasal dari teori kaum Materialisme dan Kapitalisme dimana titik tolak mereka dalam meneliti sikap manusia hanya didasari pada sesuatu yang terlihat nyata dan rasional.
Islam memandang bahwa bekerja adalah ibadah (QS :9 /105) dan sebagai ibadah maka harus ada didalamnya rasa untuk terus menerus meningkatkan kualitas dari ibadah tersebut, dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa orang-orang yang mengatakan I dont like Monday berarti karena orientasi bekerjanya salah, kenapa dikatakan salah? karena jika seseorang itu menyadari bahwa bekerja adalah ibadah maka tidak ada lagi kata-kata “tidak suka“ untuk bekerja kapan saja. Dan justru ketika dia memahami bahwa kerja adalah ibadah maka dia akan terus bersemangat untuk selalu bekerja, bekerja dan bekerja karena itu berarti beribadah, beribadah dan beribadah dengan semakin banyak bekerja dalam arti beribadah tentu dia akan semakin banyak peluang untuk mendapatkan ridho-Nya (QS : Az-Zumar 39).
Alasan kedua adalah suasana liburan yang masih membekas dan terbawa pada waktu seseorang  bekerja, Islam menjawab bahwa pada dasarnya manusia itu selalu maunya bermalas-malasan, santai dan tidak mau untuk bekerja keras serta berkeluh kesah (QS : Al-Ma’arij : 19). Hal ini jika terus dipupuk tentu akan menyuburkan perasaan malas dan ingin setiap waktu adalah waktu untuk bersenang-senang dan beristirahat, padahal Islam memerintahkan kita untuk terus bersemangat dalam bekerja seperti disebutkan dalam Al-Qur’an : “ Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain “ QS 94 : 7). Bekerja dengan bersemangat itulah yang diharapkan oleh Islam.
Dari dua poin diatas dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa yang namanya bekerja dalam arti ibadah adalah kapan saja dan di mana saja. Karena itu katakanlah Uhibbu Yaumul Itsnain wa kulla yaum “Aku suka hari senin dan semua hari“ karena hari-hari itu adalah sebuah perjalanan yang harus kita isi dengan ibadah. Wallohu’alam.

>Ketika Perpustakaan ada Di Genggaman…..

>

Ketika Perpustakaan ada Di Genggaman…..
Oleh Abu Aisyah
Transformasi perpustakaan konvensional menjadi perpustakaan digital telah membawa sebuah metode baru dalam mengakses informasi. Di satu pihak kita dimudahkan dengan kehadiran perpustakaan digital yang memudahkan untuk mencari referensi bagi tulisan-tulisan kita. Namun di pihak lain, ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan kita. Adakah sesuatu yang hilang kita rasakan?
Ketika perpustakaan berada di genggaman tangan seharusnya akan memudahkan kita untuk mencari setiap informasi dan sumber solusi bagi setiap permasalahan yang ada. Misalnya kita ingin mencari jawaban mengenai tekhnik pemilihan kepala Negara dalam Islam, maka tinggal masukan key word (kata kunci) maka hanya dalam hitungan detik telah terpampang semua informasi yang berkaitan dengan apa yang kita cari.
Barangkali ada sebagian pembaca ada yang belum paham dengan judul tulisan ini. Yang saya maksud dengan perpustakaan berad di genggaman tangan adalah bahwa saat ini semua buku-buku referensi telah berevolusi menjadi sebuah file digital. Kemudian file-file digital tersebut dijadikan satu dalam bentuk file CHM atau dalam kumpulan yang lebih banyak semisal Maktabah Syamilah, Maktabah Alfiyah dan yang lainnya. Sehingga semua buku-buku maroji’ (referensi) tersebut sudah ada di PC kita atupun laptop dan note book. Bahkan saat ini telah ada di HP, PDA, Smartphone, Ipad dan yang lainnya. Intinya adalah sebuah perpustakaan kini benar-benar telah berada di genggaman tangan kita.
Kemudian apa yang bisa kita lakukan? Terlalu banyak untuk disebutkan. Ketika sumber-sumber ilmu pengetahuan yang begitu melimpah ada di genggaman, menjadi sebuah kemudahan bagi kita untuk mengakses semua referensi tersebut. Tentunya dengan syarata memiliki kemampuan untuk menganalisa buku-buku induk tersebut. Penguasaan bahasa Arab bisa menjadi bekal utama, walaupun saat ini file digital yang juga telah banyak yang menggunakan bahasa Indonesia.
Namun seiring kemajuan tekhnologi ini, ada sesuatu yang hilang pada kaum muslimin. Keberkahan ilmu adalah sesuatu yang hilang dari kaum muslimin, keberkahan yang dimaksud adalah kebaikan yang banyak dari adanya perpustakaan digital tersebut. Dahulu ketika mencari satu buah hadits harus dilakukan dengan perjalanan panjang menembus lautan sahara dan memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kini hanya dengan satu klik dalam hitungan detik hadits tersebut telah ada di depan mata.
Maka walaupun kemudahan itu telah ada di depan mata, nilai kebaikan (keberkahan) itu justru semakin berkurang. Hal ini bisa dipahami bahwa ketika para ulama dulu mencari satu buah hadits mereka dengan perjuangan luar biasa mendapatkan hadits tersebut, mereka catat, mereka hapal dan langsung diamalkan. Inilah yang membedakan kita dengan mereka, mereka sangat hapal dengan hadits yang mereka dapatkan karena langsung diamalkan, sedangkan kita mungkin sudah banyak sekali hadits yang kit abaca dan kita dengar namun hanya sedikit sekali yang kita amalkan. Inilah salah satu dari keberkahan ilmu yang hilang tersebut.
Walaupun seluruh hadits telah kita ketahui namun perjuangan untuk mendapatkannya tidak dibarengi dengan pengamaannya. Sehingga yang terjadi adalah mengetahui suatu hadits tapi tidak mengamalkannya. Dalam skala yang lebih luas kita memiliki begitu banyak referensi namun tidak bermanfaat untuk kita. Semoga kita tida termasuk mereka yang disebutkan oleh Allah ta’ala dalam QS Al-Jumu’ah ayat 5 :
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايَاتِ اللهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya  adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
Permisalan ini adalah sebuah perumpaan yang sangat terang, bahwa seekor keledai yang membawa buku-buku tebal tidak dapat mengambil manfaat darinya, bahkan ia menganggap itu adalah beban. Demikian pula orang-orang yang dalam komputernya terdapat begitu banyak referensi namun hanya sekadar koleksi dan tidak dapat mengambil manfaat darinya bisa jadi ia seperti keledai dalam ayat tersebut.
Sebenarnya ini juga berlaku bagi mereka yang memiliki referensi dalam bentuk buku, mereka memiliki banyak buku hanya sekadar pajangan di ruang tamu atau memerindah ruang keluarga. Semoga kita terhindar dari hal-hal tersebut.
Dalam ayat di atas ada sesuatu yang menarik yaitu “Seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal” secara bahasa bahwa kalimat “membawa” adalah memiliki kitab-kitab tebal yang selalu dibawa kemana-mana, sehingga jika saat ini di antara kita memiliki laptop atau  note book yang selalu kita bawa kemana-mana dan berisi buku-buku yang tebal maka berhati-hatilah bisa jadi kita masuk ke dalam sindiran ayat tersebut.
Maka ketika perpusatakaan telah ada di genggaman tangan, manfaatkanlah ia, jadikan ia referensi yang memudahkan ibadah kita kepada Allah ta’ala. Dengan ini mudah-mudahan keberkahan ilmu yang selama ini hulang dapat kita raih kembali. Jangan sampai kita terancam dengan QS Al-Jumu’ah ayat 5 tersebut. Wallahu ‘alam.     

>Adab Mengutip Tulisan Dalam Islam

>

Adab Mengutip Tulisan Dalam Islam
Oleh : Abdurrahman
Di antara keberkahan ilmu dalam Islam adalah menyandarkan suatu pendapat (teori) kepada orang pertama yang mengeluarkan pendapat (teori) tersebut. Hal ini seperti disebutkan oleh Imam Al-Qurthubi dalam muqadimah kitab tafsirnya, beliau mengatakan :
وشرطي في هذا الكتاب : إضافة الأقوال الى قائليها والأحاديث الى مصنفيها فإن يقال : من بركة العلم أن يضاف القول الى قائله
Saya mensyaratkan dalam kitab ini agar menyandarkan setiap pendapat kepada orang yang mengungkapkannya dan menyandarkan hadits kepada penyusunnya, karena salah satu dari keberkahan ilmu adalah menyandarkan pendapat kepada orang yang mengungkapkannya. Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Qurthuby, Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, Juz I hlm. 27.
Maksud dari “Menyandarkan setiap pendapat kepada orang yang mengungkapkannya” adalah menyebutkan secara lugas bahwa suatu pendapat atau teori berasal dari orang pertama yang menyebutkan teori atau pendapat tersebut. Dalam hal ini juga terkandung larangan untuk mengaku-ngaku teori dan pendapat orang lain dengan berbagai sebab, misalnya mengakui pendapat orang lain adalah pendapatnya atau mengakui hasil temuan dari penelitian orang lain disebut sebagai miliknya.
Dalam ruang lingkup penulisan makalah maka “Menyandarkan setiap pendapat kepada orang yang mengungkapkannya”  berarti memberikan catatan kaki untuk setiap pendapat yang buka pendapat kita. Atau minimal menyebutkan bahwa perkataan dan pendapat ini adalah milik seseorang yang telah mengungkapkannya pertama kali. Ini berarti tidak boleh mengaku-ngaku bahwa pendapat ini adalah pendapatnya sendiri padahal bukan. Inilah tanggung jawab ilmiah dalam penulisan Islam, ia sangat menjunjung tinggi keilmiahan dan keaslian ide seseorang. Bahkan ia adalah salah satu dari keberkahan ilmu dalam Islam.
Selanjutnya, bagaimana sebenarnya adab atau etika mengutip dalam penulisan Islam? Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa pengutipan dibolehkan, ia adalah sebagai penguat bagi hipotesa kita. Permasalahannya adalah jika pengutipan tersebut tidak menyebutkan sumber yang ia kutip. Maka adabmengutip dalam Islam adalah :
1.Menyebutkan pemilik ide (teori) yang kita kutip
2.Tidak mengklaim bahwa pendapat (teori) tersebut adalah milik kita
3.Menyebutkan secara jujur ide-ide yang kita kutip untuk memperkuat hipotesa kita.
Ketiga adab ini haruslah dijunjung tinggi oleh umat Islam, terutama mereka yang berkutat di bidang penulisan dan karangan.
Sekilas adab dan etika ini mirip dengan konsep hak cipta dalam, secara umum memang demikian adanya bahwa dalam konsep hak cipta dikenal adanya hak moral, yaitu hak untuk menyebutkan sumber dan pemilik dari hak cipta tersebut. Dalam hal ini yaitu ketika kita mengutip pendapat orang lain hendaknya kita sebutkan pemilik dari pendapat (teori) tersebut.
Namun hak cipta adalah model hak kepemilikan yang muncul baru sekitar abad ke-19, sementara konsep keberkahan ilmu dalam Islam telah ada sejak abad ke-09. Ini berarti sepuluh abad lebih dulu Islam telah memberikan kaidah-kaidah pengutipan dalam sebuah karya ilmiah.
Inilah salah satu dari warisan Islam yang harus senantiasa kita lestarikan. Wallahu ‘alam.